Nama Kelompok:
1. Zaheda Fatimah Az-zahra
2. Jordy Adam N
3. Elma Syifa
4. Rafly Rivaldi
5. M Tajul Umam
6. Dina Kirana P
Sejarah Singkat Kerajaan Banjar
1. Zaheda Fatimah Az-zahra
2. Jordy Adam N
3. Elma Syifa
4. Rafly Rivaldi
5. M Tajul Umam
6. Dina Kirana P
Sejarah Singkat Kerajaan Banjar
Tahun 1400 : Empu Jatmika dengan istrinya Sira Manguntur
bersama kedua anaknya Empu Mandastana dan Lambung Mangkurat, dibantu oleh Tatah
Jiwa dan Arya Megatsari mendirikan Candi Laras di Margasari, dan membentuk
kerajaan Kuripan Jaya atau Negara DipaSelanjutnya ibukota
kerajaan pindah ke Marabahan dan kerajaan berubah menjadi kerajaan Hindu Nagara
Daha. A.A.Cense berpendapat bahwa Empu Jatmika berasal adari Hindu Jawa. Negara
Dipa adalah koloni Hindu Jawa yang disebut oleh van der Tuuk imigran suku Jawa.
Tahun 1410 Empu Jatmika
pindah ke Kuripan Amuntai dan mendirikan Candi Agung.
Pada kerajaan pertama
ini Lambung Mangkurat (putra Ampu Jatmika) mengangkat Pangeran Suryanata
sebagai raja dan mengawinkannya dengan putri Junjung Buih keduanya merupakan
tokoh mitos. Suryanata disebutkan sebagai putra Batara Majapahit, pada tahun
1438 diutus ke darah ini dan di angkat menjadi raja serta mengaku pertuanan
Majapahit.
Jadi pada tahun 1438
sebagai raja pertama di Kalimantan Selatan adalah Pangeran Suryanata dan
mangkubuminya Patih Lambung Mangkurat. Posisi Lambung Mangkurat itu seperti
Gajah Mada di kerajaan Majapahit atau Demang Daun Lebar pada kerajaan
Sriwijaya.
Wilayah kerajaan
Suryanata meliputi : Wilayah Batang Tabalong, Batang Balangan, Batang Alai,
Batang Amandit, dan Labuan Amas.
Negeri taklukan kerajaan
Suryanata adalah Sambas, Sukadana, Sanggau, Batang Lawai, Karasika,
Kotawaringin, Pasir, Kutai dan Berau.
Pangeran Suryanata dan
Junjung Buih akhirnya wafat dan meninggalkan dua orang putera yaitu Raden Surya
Ganggawangsa dan raden Wangsa.
Tahun 1460-1530
Pangeran Suria Gangga Wangsa putra Pangeran Suryanata memerintah.
Tahun 1530-1555 raden
Sri Kaburangan putra putri Kalungsu memerintah, sedangkan Lambung Mangkurat
wafat dan diganti oleh Aria Trenggano.
Tahun 1555-1585
Pangeraan Sukarama putra Raden Sari Kaburangan
Tahun 1585-1588
Pemerintah Pangeran Mangkubumi putra Pangeran Sukarama.
Tahun 1588-1595
Pemerintahan Pangeran Tumanggung putra pangeran Sukarama.
Tahun 1595-1620 raden
Samudera, putra-putri Galuh atau cucu dari Pangeran Sukarama, dengan gelar Sultan
Suriansyah yang merupakan raja Banjar yang pertama masuk Islam. Sebelum dewasa
Raden Samudera menyingkir kepedalaman kaeran.
Pemerintahan dipegang
oleh pamannya Raden Tumenggung. Setelah dewasa untuk merebut kekuasaan tersebut
Pangeran Samudera minta bantuan dengan kerajaan Demak dengan perjanjian mau
masuk Islam beserta rakyatnya. Setelah pertempuran terjadi makan akhirnya Raden
Tumenggung menyerahkan tahta kerajaan pada Raden Samudera. Setelah masuk Islam
dia bergelar Sultan Suriansyah dan ibu kota kerajaan di pindah ke Kuin
Banjarmasin dan selama memeritan dia didampingi oleh Patih Masih. Yang
mengislamkan beliay adalah Khatib Dayan utusan dari Sunan Giri dan Demak di
Jawa.
Tahun 1606 kapal
Belanda datang ke Banjarmasin, tetapi habis ditembaki dan semua Belanda dikapal
terbunuh. Belanda sudah mulai ingin menguasai Banjarmasin.
Tahun 1620-1642
Pemerintah Rahmatullah, dia keras menantang Belanda.
Tahunn 1615 Inggris
mendirikan kator dagang di Kayu Tangi, dan pada
tahun 1638 kantor dagang (loji) Belanda di banjarmasin dibakar, miliknya
disita dan orang Belanda dibunuh.
Tahun 1642-1650 Sultan
Hidayatullah I bin sulan Rahmatullah, dia memerintah berdasarkan hukum Islam,
apabila ada rakyat yang dengan sengaja meninggalkan shalat Jumat akan direndam
ke dalam air satu jam.
Tahun 1650-1678 Sultan
Mustain Billah putra Sultan Hidayatullah, dia bergelar Maruhum Panembahan. Pada
jaman ini tercatat tenggalamnya 4 buah kapal Komeni Belanda dan pertahanan yang
terkenal mulai dari Pemakuan Batang Mangapan/Muara Tambangan Dalam Pagar, Kayu
Tangi Martapura.
Taun 1678-1685 Sultan
Inayullah bin Sultan Mustain Billah bergelarRatu Agung Pangeran Dipati Tuha.
Pusat Kerajaan tetap di Muara Tambangan Dalam Pagar Kayu Tangi.
Tahun 1685-1700 Sultan
Saidullah putra Sultan Inayatullah. Bergelar Ratu Anom Panembahan Batu ke I.
Karena banyak memperhatikan ibadat Agama maka dalam pemerintahan banyak
dilakukan oleh Wazir dan Patih Punggawa.
Tahun 1698 Inggris
mendirikan kantor Banjarmasin.
Tahun 1700-1745
Pemerintahan Sultan Tahlilullah putra sultan Saidullah. Yang bergelar Pangeran
Adipati Tapasana. Pada saat pemerintahannya memberangkatan Muhammad Arsyad
untuk naik haji ke Mekah sekaligus menuntut ilmu di Mekah dan Medinah selama 30
tahun dengan biaya kerajaan. Tahun 1772 Muhammad Arsyad kembali ke Kalimantan
yang dikenal dengan Syech Muhammad Arsyad al Banjari (alm)
Tahun 1745 – Sultan
Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah kemudian Sultan Kuning pengganti Sultan
Tahlilullah.
Tahun 1745-1778 Sultan
Tamjidillah putra kedua Sultan Tahlillah dengan gelar Sultan Sepuh.
Tahun 1756 Belanda
mendirikan benteng di Banjarmasin agar Inggris jangan melakukan hubungan dagang
dengan Banjarmasin.
Pada tahun 1776
mendirikan Keraton baru di Martapura (sekitar jalan Mesjid sampai dengan Cahaya
Bumi Selamat). Pada waktuperang Banjar di jaman Pangeran Hidatullah istana
keratin beserta mesjid di Pesayangan dibakar Belanda, bersamaan dengan
digantungnya Panglima Demang Leman beserta pejuang lainnya di lapangan Bumi
Selamat.
Tahun 1778-1785
SultanTahmidillah II atau Pangeran Muhammad bin Sultan Tamjidillah.
Sejak pemerintahan
Sultan Tamjidillah dan Sultan Tahmidillah sebagai Sultan Banjar ke 9 dan ke 10,
keberadaannya tidak diakui oleh pemerintah colonial Belanda.
Tahun 1787 Pangeran
Amir putera Tahmidillah I menyerang Martapura, karena dia merasa berhak atas
tahta kerajaan, tetapi kalah karena Tahmidillah II dibantu oleh Belanda,
sehingga Pangeran Amir diasingkan ke Ceylon.
Tahun 1808-1825 Sultan
Sulaiman bin Sultan Tahmidillah I pengganti Sultan Tahmidillah II.
Kesultanan ini juga
tidak diakui Belanda, pusat pemerintahan atau Keraton kerajaan dipindah ke
Karang Anyar, Karang Intan Martapura. Pemerintahan adil dan disukai rakyat.
Tahun 1825-1857
Pemerintahan Sultan Adam Alwasiq Billah putera pertama Sultan Sulaiman,
merupakan raja Banjar ke 20 sejak zaman Hindu atau SSUltan Banjar ke-12 zaman
Islam.
Dari 32 tahun
memerintah, hanya 25 tahun yang berjalan aman dan lancar. Belanda mulai campur
tangan urusan pemerintahan seperti penetapan putera mahkota harus persetujuan
Pemerintah Hindia Belanda, demikian pula penunjukkan Perdana Menteri.
Tahun 1826 Kota
Banjarmasin dan daerah pantai menjadi kekuasaan Belanda.
Tahun 1835 Sultan Adam
membuat Undang-Undang yang dikenal dengan Undang-Undang Sultan Adam, yang
berisi tentang perkawinan, hak-hak tanah dan sebagainya.
Tahun 1857 Sultan Adam
mangkat dimakamkan di Martapura (sekarang di Jl. Sultan Adam, Kampung Jawa)
Pemerintahadiganti oleh
Sultan Tamjidillah yang diangkat oleh Belanda, sedangkan bersamaan itu pula
Sultan Adam menunjuk Pangeran Hidayatullah untuk menduduki tata kerajaan.
Sultan Tamjidillah adalah anak dari Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam
yang kawin dengan Nyai Aminah (keturunan Cina), Pangeran Hidayat adalah putra
Sultan Muda Abdurrahman dan istrinya yang kedua yaitu Ratu Siti bin Pangeran
Mangkubumi Nata. Sultan Muda Abdurrahman, tidak sempat menduduki tahta kerajaan
karena lebih dahulu meninggal dunia sebelum Sultan Adam wafat.
Tahun 1857-1859
kerajaan Banjar bergolak, karena keberhasilan Belanda mengangkat Pangeran
Tamjidillah untuk menjadi raja Banjar dengan dibantu angkatan perang Belanda
untuk melumpuhkan kekuasaan Pangeran Hidayat.
Tahun 1859 Sultan
Tamjidillah menyerahkan kerajaan Banjar kepada belanda dan atas perintah
Belanda, Tamjidillah diasingkan ke Jawa.
Tanggal 11 Juni 1860
Kerajaan Banjar yang bermula dari Negara Dipa dan Kerajaan Daha dihapus oleh
Belanda sehingga akhirnya seluruh kerajaan.
Banjar menjadi jajahan
Belanda. Oleh karena itu sejak tahun 1859 meletuslah perang Banjar yang dicetuskan
oleh Pangeran Hidayatullah, digerakkan oleh Pangeran Antasari bin Pangeran
Mas’ud bin Pangeran Air bin Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah bin Sultan
Kuning bin Amirullah Bagus Kesuma (Sultan Tahlil) hingga berakhir 5 Oktober
1905.
Tahun 1859-1862 perang
melawan Belanda yang dipimpin olehangeran Hidayat, Pangeran Antasari dan Demang
Leman.
Tahun 1862 Pangeran
Hidayat menyerah pada Belanda dan diasingkan ke Cianjur.
Tahun 1862-1905 Sultan
Muhammad Seman merupakan raja Banjar terakhir, dengan Panglima Batur sebagai
panglima perang.
Tahun 1870 Panglima
Wangkang menyerang Belanda di Banjarmasin, dan 1889 Haji Bulahir menyerang
Belanda di Amuntai.
Tahun 1898 Perang
Hantarukung dipimpin oleh Bukhari melawan Belanda di Kandangan dan diteruskan
oleh Muhammad Seman di Barito.
Tahun 1905 Muhammad
Seman gugur, tokoh-tokoh lainnya seperi Ratu Zaleha tertangkap diasingkan ke
Bogor, sehingga praktis seluruh wilayah kerajaan Banjar jatuh ke tangan. Tetapi
walaupun demikian semangat perjuangan yang melawan penjajah yang dikobarkan
oleh pejuang perang Banjar “haram manyarah waja sampai kaputing” tetap
memberikan semangat untuk mempertahankan banua Banjar.
Tahun 1942 Banjarmasin
diduduki Jepang, mereka datang dari dua tempat yaitu melalui Balikpapan dan
Banjarmasin.
Tanggal 14 Agustus 1945
Jepang menyerah kepada Sekutu (Amerika dan Inggris) dan kemudian datanglah
tentara Australia yang diboncengi tentara Belanda atau Nica (Nederland Indiche
Civil Adminstration).
Tanggal 17 Agustus 1945
Proklamasi Kemerdekan Republik Indonesia di Jakarta, kemudian datanglah tentara
Australia yang diboncengi tentara Nica (Nederland Indiche Civil Adminstration)
sehingga meletuslah perang melawan Belanda di seluruh Kalimantan.
Tahun 1946 berdirilah
Devisi IV ALRI untuk mengusir Belanda. Dan pada tanggal 24 Oktober 1949 sang
Merah putih resmi berkibar di Banjarmasin.
Tanggal 24 Juli 2010
Gusti Khairul Saleh (Bupati Banjar sekarang) dilantik sebagai pangeran dan
dinobatkan sebagai raja muda Banjar oleh Lembaga Adat dan kekerabatan
kesultanan Banjar. Dia adalah keturunan Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman.
Pada Kunjungan kami di museum Lambung Mangkurat , dapat di temukan beberapa peninggalan sejarah seperti :
Candi Laras
`Candi Laras merupakan sisa kebudayaan Hindu yang pernah
masuk dan berkembang di Kalimantan Selatan. Di sekitar area candi ini terdapat
beberapa sisa bangunan dari patung dan batu yang sudah rusak. Patung-patung
tersebut mirip Lingga, Syiwa Maha Guru, dan Nandi serta beberapa potong batu
alas patung yang berbentuk padma,
1. Sisa Patung Nandi
4. Pecahan Patung Batara Guru
6. Replika Lingga Yoni
2. Replika Nandi
5. Patahan Lingga 7. Alas Patung
3. Replika Syiwa sebagai Batara
Numismatika
Mata uang adlah alat tukar atau pembayaran yang sah pada
masanya dan dapat di jadikan bukti sejarah daerah Kalimantan Selatan. Di
Kalimantan Selatan pernah beredar mata uang local yang hanya berlaku di
perkebunan lada daerah Maluka (Pelaihari).
Keraton Bumi
Selamat di Martapura
Menggambarkan keratin Kerajaan Banjar Bumi Selatan di
Martapura pada pertengahan abad ke-19 lengkap dengan alun-alun.
Meriam VOC
Perlawan dalam perang Banjar terjadi di darat dan perairan.
Dahsyatnya perlawanan lascar Banjar menyebabkan Belanda meminta bantuan kapal
perang Batavia. Belanda menggunakan meriam sebagai senjata di kapal-kapal dan
benteng-benteng mereka.
Keraton Sultan Tamjid
di Sungai Mesa
Menggambarkan keratin Raja Banjar yang terakhir, yaitu
Keraton Sultan Tamjid yang memerintah pada tahun 1850-1859.
Jenis Senjata yang
di Gunakan pada Perang Banjar
Dengan Semangat yang tinggi para pejuang perang Banjar
mengusir penjajah dari daerah kerajaan Banjar mereka hanya menggunakan
peralatan perang seadanya. Dengan menggunakan senjata tradisional berupe
parang, keris, meriam jela, tombak, mandau, dan sumpitan, mereka melawan
tentara Belanda yang menggunakan peralatan perang modern berupa pistol dan
meriam.
1. Talabang 4. Tempat
Damak
2. Tombak Sumpitan 5. Anak Damak
3. Tempat Surat 6. Mandau
Penyeranga
Terhadap Tambang Batu Bara “Oranje
Nassau”
Menggambarkan peristiwa penyerangan pasukan Banua Ampat yang
di pimpin oleh Panggeran Antasari terhadap Tambang Batubara Oranje Nassau
kabuten di Pengarun Kabupaten Banjar pada tanggal 28 April 1859. Penyerangan
ini merupakan awal pecahnya Perang Banjar (1859-1865).
Al-Qur’an Tulisan
Tangan
Merupakan karya spektakuler Syekh Muhammad Arsyad
Al-Banjari, seorang tokoh ulama terkenel
pada masanya sampai sekarang. Al-Qur’an ini di lengkapi catatan tepi
yang berisi penjelasan tertentu.
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
Kebesaran nama K.H. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari selain
tulis tangan kitab Suci Al-Qur’an yang indah, beliau juga membuat karya satra
islam yang di angkat dari ajaran tauhid, fiqih dan akidah berupa kitab-kitab
penuntun keagamaan seperti Sabilal Mukhtadin, Usuluddin, Kitabun Nikah, Faraidh
dan Tuhfatur Ragibin.
Syiar agama dengan Bil Khitab ini di sampaikan dan diajarkan
di dalam pesantren-pesantren seeerta pengajian.
Pangeran Hidayat
Pangeran Hidayat adalah seorang Mangkubumi di kerajaan
Banjar, yang berhak atas tahta kerajaan Banjar. Namun dia tersingkir dari
kedudukan sebagai pewaris tahta yang sah oleh akibat politik Belanda dan di buang bersama rombongan ke Jawa.
Pangeran Aminullah
Pangeran Aminullah adalah salah satu pejuang perang Banjar
(1859-1865) yang mengusir penjajah dari kerajaan Banjar.
Demang Leman
Demang Leman adalah seorang pemimpin perang Banjar yang
menjalani hukuman mati di Martapura sesuai dengan vonis pengadilan militer
Belanda.
Basunat
Basunat merupakan upacara daur hidup penduduk Kalimantan
Selatan yang beragamaislam ketika anak menjelang dewasa. Pada upacara ini anak
di khitan dengan bermacam kelengkapan upacara. Untuk keperluan tersebut di
siapkan pakaian, piduduk, dan peralatan sunat untuk mengkhitan si anak.
Peralatan tersebut berupa pisau dengan kelengkapannya dan obat-obatan
tradisional seperti:
1. Kalung
5. Penjepit 9.
Daun Nangka 13. Tapih
2. Gelang
6. Panggalang 10.
Sasanggan 14. Baju
3. Anting
7. Pisau
11. Tungkat 15.
Laung
4. Pancucuk
8. Wadah obat 12.
Penyangga Tapih
Peralatan Pandai
Emas
Mutu suatu perhiasan tidak hanya dari jenis logam serta
kemampuan pandai emas menciptakan bentuk hiasannya saja,tetapi juga diperlukan
daya cipta dengan teknik pahat dan patri untuk membentuk,menghaluskan,dan
mengukir ragam hias emas yang akan dijadikan perhiasan.
1. Cetakan
7. Ptul
12. Sanglingan
2. Lempengan
8. Kikir
13. Tang Penjepit
3. Perhiasan Wanita
9. Mal Acuan
14. Alat Tiup Kuningan
4. Tuangan/Cetakan 10. Tukul Kecil 15. Tangkai Gergaji Besi
5. Penumbuk
11. Landasan
16. Peti Untuk Pandai Emas
6. Gunting
RUMAH BANJAR
BUBUNGAN TINGGI
Rumah adat Banjar yang di tempati khusus oleh keluarga
bangsawan di bangun dari kayu ulin dengan ciri-ciri rumah di atas tiang dan
atapnya yang menjulang tinggi. Rumah ini dilengkapi dengan simbul-simbul
semiotik yang di ambil dari kepercayaan kuno suku bangsa Dayak Ngaju seperti
Jamang, Pilis, dan Sungkul. Simbol-simbol nenek moyang ini menggambarkan
kehidupan mitologi dari pohon kehidupan batang garing dimana leluhur mereka
diyakinkan terlahir dari pohon kehidupan itu.Di dalam struktur keluarga luas
pedesaan. Rumah Adat Banjar terdiri dari beberapa seperti :
v Joglo yang di huni
para pedagang Cina
v Tadah Alas yang di
huni oleh rakyat biasa
v Gajah Baliku yang
di huni oleh saudara sultan
v Palimbangan di huni
oleh para saudara
v Gajah Manyusu di
huni oleh para wasit
v Balai Bini di huni
oleh para patri raja yang sudah bersuami atau berkeluarga di pihak permaisyuri
v Palimasan di huni
oleh para ulama.
NAGA DARAT
Kepala naga ini merupakan sampung (kepala) perahu. Suku
Banjar biasanya menggunakannya untuk mengarak penganten
SENI TARI DAN
TEATER
Kesenian tari dan teater separti Wayang Kulit, Wayang Guna
dan Topeng ditampilkan bersamaan dengan tokoh jenis pakaian dan peralatan
musik-musiknya. Seni tari dan teater ditunjukkan sebagai hiburan dan berbagai
peristiwa sacral seperti pesta panen, tolak bala, dan pengobatan. Kesenian
teater banyak menceritakan tentang tokoh-tokoh di dalam cerita Ramayana dan
juga tokoh-tokoh cerita di dalam dongeng rakyat yang bertujuan untuk
mensosialisasikan larangan-larangan tabu seperti di dalam lakon jenaka dari
papanunan di dalam kesenian topeng. Di samping pengawasan social yang demikian
itu, seni teater yang di fungsikan sebagai saran medeasi unntuk menghentikan
wabah penyakit serta mengurangi resiko penderitaan manusia akibat kerusakan
generasi di masa lalu.
ALAT MUSIK
TRADISIONAL
Peralatan musik tradisionaal di buat dari bahan alam seperti
kayu, bamboo, kulit binatang, dan serat tanaman. Sifat lentur, seratnya yang
kuat serta keuletan dari bahan yang di gunakan dapat memungkinkan peralatan
musik di bentuk untuk menghasilkan bunyi-bunyi indah yang di inginkan.
Peralatan musik di mainkan dengan nada pentakonic, dianok, gesek tiup dan
pukul. Sebagai musik kesenian daerah di tampilkan secara kolosal dalam bentuk
barisan yang di laksanakan sebagai festival seni musik untuk memperingati hari
besar islam dan menyambut tamu Negara.
23. PERMAINAN RAKYAT
Alat-alat permainan di buat dalam bentuk dan penggunaan yang
sesuai dengan kelompok umur orang yang memainkannya. Alat permainan, disamping
digunakan untuk permainan dan hiburan juga digunakan untuk dilombakan. Di
Kalimantan Selatan banyak alat-alat permainan diciptakan dengan mengambil bahan
yang berasal dari lingkungan di dalam memenuhi kebutuhan khusus akan hiburan
permainan pada anak-anak, remaja dan orang dewasa.
Bagasing
Balogo
Bakaleker
Kalayangan Dandang
Badakuan
Basigi
Sepak Takrau
24. UPACARA BAAYUN MULUD
Upacara daur hidup di masa kanak-kanak bagi penduduk yang
beragama Islam, dilaksanakan dengan cara baayun mulud. Upacara dalam rangka
peringatan kelahiran nabi Muhammad SAW. Dan pada saat peringatan itu anak di
dalam ayunan khusus yang di beri hiasan dan kelengkapan bersagi lain seperti
tangga, manisan, piduduk dan padupan pada saat upacara berlangsung pemimpin
upacara membacakan Asyura aqal An-nam Dibba, Hasyi dan surat berjanji.
Peringatan gizi dan nutrisi di dalam tujuan upacara membesarkan anak ini juga
menjadi peristiwa penting yang harus diperhatikan.
TULANG GAJAH
Temuan tulang gajah yang sudah memfosil di kecamatan Tamban,
kabupaten Barito Kuala menunjukkan bahwa zaman dahulu pernah hidup binatang
gajah yang merupakan kekayaan fauna daerah Kalimantan selatan. Berdasarkan
penelitian , keberadaan gajah ini dari masa 10.000 tahun.
PENINGGALAN
PRASEJARAH
Yang di temukan di kaki gunung, di tepi-tepi danau dan
sungai. Yang meliputi kapak genggam, beliung persegi, kapak lonjong, kapak
batu, pahat da kapak perunggu.