Minggu, 20 Desember 2015

Kunjungan Ke museum Lambung Mangkurat Banjarbaru tentang Kerajaan Banjar

Nama Kelompok: 
1. Zaheda Fatimah Az-zahra
2. Jordy Adam N
3. Elma Syifa
4. Rafly Rivaldi
5. M Tajul Umam
6. Dina Kirana P



Sejarah Singkat Kerajaan Banjar

Tahun 1400 : Empu Jatmika dengan istrinya Sira Manguntur bersama kedua anaknya Empu Mandastana dan Lambung Mangkurat, dibantu oleh Tatah Jiwa dan Arya Megatsari mendirikan Candi Laras di Margasari, dan membentuk kerajaan Kuripan Jaya atau Negara DipaSelanjutnya ibukota kerajaan pindah ke Marabahan dan kerajaan berubah menjadi kerajaan Hindu Nagara Daha. A.A.Cense berpendapat bahwa Empu Jatmika berasal adari Hindu Jawa. Negara Dipa adalah koloni Hindu Jawa yang disebut oleh van der Tuuk imigran suku Jawa.
Tahun 1410 Empu Jatmika pindah ke Kuripan Amuntai dan mendirikan Candi Agung.
Pada kerajaan pertama ini Lambung Mangkurat (putra Ampu Jatmika) mengangkat Pangeran Suryanata sebagai raja dan mengawinkannya dengan putri Junjung Buih keduanya merupakan tokoh mitos. Suryanata disebutkan sebagai putra Batara Majapahit, pada tahun 1438 diutus ke darah ini dan di angkat menjadi raja serta mengaku pertuanan Majapahit.
Jadi pada tahun 1438 sebagai raja pertama di Kalimantan Selatan adalah Pangeran Suryanata dan mangkubuminya Patih Lambung Mangkurat. Posisi Lambung Mangkurat itu seperti Gajah Mada di kerajaan Majapahit atau Demang Daun Lebar pada kerajaan Sriwijaya.
Wilayah kerajaan Suryanata meliputi : Wilayah Batang Tabalong, Batang Balangan, Batang Alai, Batang Amandit, dan Labuan Amas.
Negeri taklukan kerajaan Suryanata adalah Sambas, Sukadana, Sanggau, Batang Lawai, Karasika, Kotawaringin, Pasir, Kutai dan Berau.
Pangeran Suryanata dan Junjung Buih akhirnya wafat dan meninggalkan dua orang putera yaitu Raden Surya Ganggawangsa dan raden Wangsa.
Tahun 1460-1530 Pangeran Suria Gangga Wangsa putra Pangeran Suryanata memerintah.
Tahun 1530-1555 raden Sri Kaburangan putra putri Kalungsu memerintah, sedangkan Lambung Mangkurat wafat dan diganti oleh Aria Trenggano.
Tahun 1555-1585 Pangeraan Sukarama putra Raden Sari Kaburangan
Tahun 1585-1588 Pemerintah Pangeran Mangkubumi putra Pangeran Sukarama.
Tahun 1588-1595 Pemerintahan Pangeran Tumanggung putra pangeran Sukarama.
Tahun 1595-1620 raden Samudera, putra-putri Galuh atau cucu dari Pangeran Sukarama, dengan gelar Sultan Suriansyah yang merupakan raja Banjar yang pertama masuk Islam. Sebelum dewasa Raden Samudera menyingkir kepedalaman kaeran.
Pemerintahan dipegang oleh pamannya Raden Tumenggung. Setelah dewasa untuk merebut kekuasaan tersebut Pangeran Samudera minta bantuan dengan kerajaan Demak dengan perjanjian mau masuk Islam beserta rakyatnya. Setelah pertempuran terjadi makan akhirnya Raden Tumenggung menyerahkan tahta kerajaan pada Raden Samudera. Setelah masuk Islam dia bergelar Sultan Suriansyah dan ibu kota kerajaan di pindah ke Kuin Banjarmasin dan selama memeritan dia didampingi oleh Patih Masih. Yang mengislamkan beliay adalah Khatib Dayan utusan dari Sunan Giri dan Demak di Jawa.
Tahun 1606 kapal Belanda datang ke Banjarmasin, tetapi habis ditembaki dan semua Belanda dikapal terbunuh. Belanda sudah mulai ingin menguasai Banjarmasin.
Tahun 1620-1642 Pemerintah Rahmatullah, dia keras menantang Belanda.
Tahunn 1615 Inggris mendirikan kator dagang di Kayu Tangi, dan pada  tahun 1638 kantor dagang (loji) Belanda di banjarmasin dibakar, miliknya disita dan orang Belanda dibunuh.
Tahun 1642-1650 Sultan Hidayatullah I bin sulan Rahmatullah, dia memerintah berdasarkan hukum Islam, apabila ada rakyat yang dengan sengaja meninggalkan shalat Jumat akan direndam ke dalam air satu jam.
Tahun 1650-1678 Sultan Mustain Billah putra Sultan Hidayatullah, dia bergelar Maruhum Panembahan. Pada jaman ini tercatat tenggalamnya 4 buah kapal Komeni Belanda dan pertahanan yang terkenal mulai dari Pemakuan Batang Mangapan/Muara Tambangan Dalam Pagar, Kayu Tangi Martapura.
Taun 1678-1685 Sultan Inayullah bin Sultan Mustain Billah bergelarRatu Agung Pangeran Dipati Tuha. Pusat Kerajaan tetap di Muara Tambangan Dalam Pagar Kayu Tangi.
Tahun 1685-1700 Sultan Saidullah putra Sultan Inayatullah. Bergelar Ratu Anom Panembahan Batu ke I. Karena banyak memperhatikan ibadat Agama maka dalam pemerintahan banyak dilakukan oleh Wazir dan Patih Punggawa.
Tahun 1698 Inggris mendirikan kantor Banjarmasin.
Tahun 1700-1745 Pemerintahan Sultan Tahlilullah putra sultan Saidullah. Yang bergelar Pangeran Adipati Tapasana. Pada saat pemerintahannya memberangkatan Muhammad Arsyad untuk naik haji ke Mekah sekaligus menuntut ilmu di Mekah dan Medinah selama 30 tahun dengan biaya kerajaan. Tahun 1772 Muhammad Arsyad kembali ke Kalimantan yang dikenal dengan Syech Muhammad Arsyad al Banjari (alm)
Tahun 1745 – Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah kemudian Sultan Kuning pengganti Sultan Tahlilullah.
Tahun 1745-1778 Sultan Tamjidillah putra kedua Sultan Tahlillah dengan gelar Sultan Sepuh.
Tahun 1756 Belanda mendirikan benteng di Banjarmasin agar Inggris jangan melakukan hubungan dagang dengan Banjarmasin.
Pada tahun 1776 mendirikan Keraton baru di Martapura (sekitar jalan Mesjid sampai dengan Cahaya Bumi Selamat). Pada waktuperang Banjar di jaman Pangeran Hidatullah istana keratin beserta mesjid di Pesayangan dibakar Belanda, bersamaan dengan digantungnya Panglima Demang Leman beserta pejuang lainnya di lapangan Bumi Selamat.
Tahun 1778-1785 SultanTahmidillah II atau Pangeran Muhammad bin Sultan Tamjidillah.
Sejak pemerintahan Sultan Tamjidillah dan Sultan Tahmidillah sebagai Sultan Banjar ke 9 dan ke 10, keberadaannya tidak diakui oleh pemerintah colonial Belanda.
Tahun 1787 Pangeran Amir putera Tahmidillah I menyerang Martapura, karena dia merasa berhak atas tahta kerajaan, tetapi kalah karena Tahmidillah II dibantu oleh Belanda, sehingga Pangeran Amir diasingkan ke Ceylon.
Tahun 1808-1825 Sultan Sulaiman bin Sultan Tahmidillah I pengganti Sultan Tahmidillah II.
Kesultanan ini juga tidak diakui Belanda, pusat pemerintahan atau Keraton kerajaan dipindah ke Karang Anyar, Karang Intan Martapura. Pemerintahan adil dan disukai rakyat.
Tahun 1825-1857 Pemerintahan Sultan Adam Alwasiq Billah putera pertama Sultan Sulaiman, merupakan raja Banjar ke 20 sejak zaman Hindu atau SSUltan Banjar ke-12 zaman Islam.
Dari 32 tahun memerintah, hanya 25 tahun yang berjalan aman dan lancar. Belanda mulai campur tangan urusan pemerintahan seperti penetapan putera mahkota harus persetujuan Pemerintah Hindia Belanda, demikian pula penunjukkan Perdana Menteri.
Tahun 1826 Kota Banjarmasin dan daerah pantai menjadi kekuasaan Belanda.
Tahun 1835 Sultan Adam membuat Undang-Undang yang dikenal dengan Undang-Undang Sultan Adam, yang berisi tentang perkawinan, hak-hak tanah dan sebagainya.
Tahun 1857 Sultan Adam mangkat dimakamkan di Martapura (sekarang di Jl. Sultan Adam, Kampung Jawa)
Pemerintahadiganti oleh Sultan Tamjidillah yang diangkat oleh Belanda, sedangkan bersamaan itu pula Sultan Adam menunjuk Pangeran Hidayatullah untuk menduduki tata kerajaan. Sultan Tamjidillah adalah anak dari Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam yang kawin dengan Nyai Aminah (keturunan Cina), Pangeran Hidayat adalah putra Sultan Muda Abdurrahman dan istrinya yang kedua yaitu Ratu Siti bin Pangeran Mangkubumi Nata. Sultan Muda Abdurrahman, tidak sempat menduduki tahta kerajaan karena lebih dahulu meninggal dunia sebelum Sultan Adam wafat.
Tahun 1857-1859 kerajaan Banjar bergolak, karena keberhasilan Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah untuk menjadi raja Banjar dengan dibantu angkatan perang Belanda untuk melumpuhkan kekuasaan Pangeran Hidayat.
Tahun 1859 Sultan Tamjidillah menyerahkan kerajaan Banjar kepada belanda dan atas perintah Belanda, Tamjidillah diasingkan ke Jawa.
Tanggal 11 Juni 1860 Kerajaan Banjar yang bermula dari Negara Dipa dan Kerajaan Daha dihapus oleh Belanda sehingga akhirnya seluruh kerajaan.
Banjar menjadi jajahan Belanda. Oleh karena itu sejak tahun 1859 meletuslah perang Banjar yang dicetuskan oleh Pangeran Hidayatullah, digerakkan oleh Pangeran Antasari bin Pangeran Mas’ud bin Pangeran Air bin Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah bin Sultan Kuning bin Amirullah Bagus Kesuma (Sultan Tahlil) hingga berakhir 5 Oktober 1905.
Tahun 1859-1862 perang melawan Belanda yang dipimpin olehangeran Hidayat, Pangeran Antasari dan Demang Leman.
Tahun 1862 Pangeran Hidayat menyerah pada Belanda dan diasingkan ke Cianjur.
Tahun 1862-1905 Sultan Muhammad Seman merupakan raja Banjar terakhir, dengan Panglima Batur sebagai panglima perang.
Tahun 1870 Panglima Wangkang menyerang Belanda di Banjarmasin, dan 1889 Haji Bulahir menyerang Belanda di Amuntai.
Tahun 1898 Perang Hantarukung dipimpin oleh Bukhari melawan Belanda di Kandangan dan diteruskan oleh Muhammad Seman di Barito.
Tahun 1905 Muhammad Seman gugur, tokoh-tokoh lainnya seperi Ratu Zaleha tertangkap diasingkan ke Bogor, sehingga praktis seluruh wilayah kerajaan Banjar jatuh ke tangan. Tetapi walaupun demikian semangat perjuangan yang melawan penjajah yang dikobarkan oleh pejuang perang Banjar “haram manyarah waja sampai kaputing” tetap memberikan semangat untuk mempertahankan banua Banjar.
Tahun 1942 Banjarmasin diduduki Jepang, mereka datang dari dua tempat yaitu melalui Balikpapan dan Banjarmasin.
Tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu (Amerika dan Inggris) dan kemudian datanglah tentara Australia yang diboncengi tentara Belanda atau Nica (Nederland Indiche Civil Adminstration).
Tanggal 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekan Republik Indonesia di Jakarta, kemudian datanglah tentara Australia yang diboncengi tentara Nica (Nederland Indiche Civil Adminstration) sehingga meletuslah perang melawan Belanda di seluruh Kalimantan.
Tahun 1946 berdirilah Devisi IV ALRI untuk mengusir Belanda. Dan pada tanggal 24 Oktober 1949 sang Merah putih resmi berkibar di Banjarmasin.

Tanggal 24 Juli 2010 Gusti Khairul Saleh (Bupati Banjar sekarang) dilantik sebagai pangeran dan dinobatkan sebagai raja muda Banjar oleh Lembaga Adat dan kekerabatan kesultanan Banjar. Dia adalah keturunan Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman.

Pada Kunjungan kami di museum Lambung Mangkurat , dapat di temukan beberapa peninggalan sejarah seperti :

    Candi Laras

`Candi Laras merupakan sisa kebudayaan Hindu yang pernah masuk dan berkembang di Kalimantan Selatan. Di sekitar area candi ini terdapat beberapa sisa bangunan dari patung dan batu yang sudah rusak. Patung-patung tersebut mirip Lingga, Syiwa Maha Guru, dan Nandi serta beberapa potong batu alas patung yang berbentuk padma,
1. Sisa Patung Nandi    4. Pecahan Patung Batara Guru    6. Replika Lingga  Yoni
2. Replika Nandi            5. Patahan Lingga                        7. Alas Patung
3. Replika Syiwa sebagai Batara

    Numismatika

Mata uang adlah alat tukar atau pembayaran yang sah pada masanya dan dapat di jadikan bukti sejarah daerah Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Selatan pernah beredar mata uang local yang hanya berlaku di perkebunan lada daerah Maluka (Pelaihari).

    Keraton Bumi Selamat di Martapura

Menggambarkan keratin Kerajaan Banjar Bumi Selatan di Martapura pada pertengahan abad ke-19 lengkap dengan alun-alun.

    Meriam VOC

Perlawan dalam perang Banjar terjadi di darat dan perairan. Dahsyatnya perlawanan lascar Banjar menyebabkan Belanda meminta bantuan kapal perang Batavia. Belanda menggunakan meriam sebagai senjata di kapal-kapal dan benteng-benteng mereka.

    Keraton Sultan Tamjid di Sungai Mesa

Menggambarkan keratin Raja Banjar yang terakhir, yaitu Keraton Sultan Tamjid yang memerintah pada tahun 1850-1859.

    Jenis Senjata yang di Gunakan pada Perang Banjar

Dengan Semangat yang tinggi para pejuang perang Banjar mengusir penjajah dari daerah kerajaan Banjar mereka hanya menggunakan peralatan perang seadanya. Dengan menggunakan senjata tradisional berupe parang, keris, meriam jela, tombak, mandau, dan sumpitan, mereka melawan tentara Belanda yang menggunakan peralatan perang modern berupa pistol dan meriam.
1. Talabang                                    4. Tempat Damak
2. Tombak Sumpitan                     5. Anak Damak
3. Tempat Surat                             6. Mandau

    Penyeranga Terhadap Tambang Batu  Bara “Oranje Nassau”

Menggambarkan peristiwa penyerangan pasukan Banua Ampat yang di pimpin oleh Panggeran Antasari terhadap Tambang Batubara Oranje Nassau kabuten di Pengarun Kabupaten Banjar pada tanggal 28 April 1859. Penyerangan ini merupakan awal pecahnya Perang Banjar (1859-1865).

    Al-Qur’an Tulisan Tangan

Merupakan karya spektakuler Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang tokoh ulama terkenel  pada masanya sampai sekarang. Al-Qur’an ini di lengkapi catatan tepi yang berisi penjelasan tertentu.

    Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Kebesaran nama K.H. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari selain tulis tangan kitab Suci Al-Qur’an yang indah, beliau juga membuat karya satra islam yang di angkat dari ajaran tauhid, fiqih dan akidah berupa kitab-kitab penuntun keagamaan seperti Sabilal Mukhtadin, Usuluddin, Kitabun Nikah, Faraidh dan Tuhfatur Ragibin.
Syiar agama dengan Bil Khitab ini di sampaikan dan diajarkan di dalam pesantren-pesantren seeerta pengajian.

    Pangeran Hidayat

Pangeran Hidayat adalah seorang Mangkubumi di kerajaan Banjar, yang berhak atas tahta kerajaan Banjar. Namun dia tersingkir dari kedudukan sebagai pewaris tahta yang sah oleh akibat politik Belanda  dan di buang bersama rombongan ke Jawa.

    Pangeran Aminullah

Pangeran Aminullah adalah salah satu pejuang perang Banjar (1859-1865) yang mengusir penjajah dari kerajaan Banjar.

    Demang Leman

Demang Leman adalah seorang pemimpin perang Banjar yang menjalani hukuman mati di Martapura sesuai dengan vonis pengadilan militer Belanda.

    Basunat

Basunat merupakan upacara daur hidup penduduk Kalimantan Selatan yang beragamaislam ketika anak menjelang dewasa. Pada upacara ini anak di khitan dengan bermacam kelengkapan upacara. Untuk keperluan tersebut di siapkan pakaian, piduduk, dan peralatan sunat untuk mengkhitan si anak. Peralatan tersebut berupa pisau dengan kelengkapannya dan obat-obatan tradisional seperti:
1. Kalung              5. Penjepit                   9. Daun Nangka          13. Tapih
2. Gelang               6. Panggalang              10. Sasanggan             14. Baju
3. Anting               7. Pisau                        11. Tungkat                 15. Laung
4. Pancucuk           8. Wadah obat             12. Penyangga Tapih

    Peralatan Pandai Emas

Mutu suatu perhiasan tidak hanya dari jenis logam serta kemampuan pandai emas menciptakan bentuk hiasannya saja,tetapi juga diperlukan daya cipta dengan teknik pahat dan patri untuk membentuk,menghaluskan,dan mengukir ragam hias emas yang akan dijadikan perhiasan.
1. Cetakan                    7. Ptul                               12. Sanglingan
2. Lempengan              8. Kikir                             13. Tang Penjepit
3. Perhiasan Wanita     9. Mal Acuan                    14. Alat Tiup Kuningan
4. Tuangan/Cetakan    10. Tukul Kecil                 15. Tangkai Gergaji Besi
5. Penumbuk                11. Landasan                    16. Peti Untuk Pandai Emas
6. Gunting

    RUMAH BANJAR BUBUNGAN TINGGI

Rumah adat Banjar yang di tempati khusus oleh keluarga bangsawan di bangun dari kayu ulin dengan ciri-ciri rumah di atas tiang dan atapnya yang menjulang tinggi. Rumah ini dilengkapi dengan simbul-simbul semiotik yang di ambil dari kepercayaan kuno suku bangsa Dayak Ngaju seperti Jamang, Pilis, dan Sungkul. Simbol-simbol nenek moyang ini menggambarkan kehidupan mitologi dari pohon kehidupan batang garing dimana leluhur mereka diyakinkan terlahir dari pohon kehidupan itu.Di dalam struktur keluarga luas pedesaan. Rumah Adat Banjar terdiri dari beberapa seperti :

v  Joglo yang di huni para pedagang Cina
v  Tadah Alas yang di huni oleh rakyat biasa
v  Gajah Baliku yang di huni oleh saudara sultan
v  Palimbangan di huni oleh para saudara
v  Gajah Manyusu di huni oleh para wasit
v  Balai Bini di huni oleh para patri raja yang sudah bersuami atau berkeluarga di pihak permaisyuri
v  Palimasan di huni oleh para ulama.


    NAGA DARAT

Kepala naga ini merupakan sampung (kepala) perahu. Suku Banjar biasanya menggunakannya untuk mengarak penganten

    SENI TARI DAN TEATER

Kesenian tari dan teater separti Wayang Kulit, Wayang Guna dan Topeng ditampilkan bersamaan dengan tokoh jenis pakaian dan peralatan musik-musiknya. Seni tari dan teater ditunjukkan sebagai hiburan dan berbagai peristiwa sacral seperti pesta panen, tolak bala, dan pengobatan. Kesenian teater banyak menceritakan tentang tokoh-tokoh di dalam cerita Ramayana dan juga tokoh-tokoh cerita di dalam dongeng rakyat yang bertujuan untuk mensosialisasikan larangan-larangan tabu seperti di dalam lakon jenaka dari papanunan di dalam kesenian topeng. Di samping pengawasan social yang demikian itu, seni teater yang di fungsikan sebagai saran medeasi unntuk menghentikan wabah penyakit serta mengurangi resiko penderitaan manusia akibat kerusakan generasi di masa lalu.

    ALAT MUSIK TRADISIONAL

Peralatan musik tradisionaal di buat dari bahan alam seperti kayu, bamboo, kulit binatang, dan serat tanaman. Sifat lentur, seratnya yang kuat serta keuletan dari bahan yang di gunakan dapat memungkinkan peralatan musik di bentuk untuk menghasilkan bunyi-bunyi indah yang di inginkan. Peralatan musik di mainkan dengan nada pentakonic, dianok, gesek tiup dan pukul. Sebagai musik kesenian daerah di tampilkan secara kolosal dalam bentuk barisan yang di laksanakan sebagai festival seni musik untuk memperingati hari besar islam dan menyambut tamu Negara.







23. PERMAINAN RAKYAT
Alat-alat permainan di buat dalam bentuk dan penggunaan yang sesuai dengan kelompok umur orang yang memainkannya. Alat permainan, disamping digunakan untuk permainan dan hiburan juga digunakan untuk dilombakan. Di Kalimantan Selatan banyak alat-alat permainan diciptakan dengan mengambil bahan yang berasal dari lingkungan di dalam memenuhi kebutuhan khusus akan hiburan permainan pada anak-anak, remaja dan orang dewasa.

    Bagasing
    Balogo
    Bakaleker
    Kalayangan Dandang
    Badakuan
    Basigi
    Sepak Takrau


24. UPACARA BAAYUN MULUD
Upacara daur hidup di masa kanak-kanak bagi penduduk yang beragama Islam, dilaksanakan dengan cara baayun mulud. Upacara dalam rangka peringatan kelahiran nabi Muhammad SAW. Dan pada saat peringatan itu anak di dalam ayunan khusus yang di beri hiasan dan kelengkapan bersagi lain seperti tangga, manisan, piduduk dan padupan pada saat upacara berlangsung pemimpin upacara membacakan Asyura aqal An-nam Dibba, Hasyi dan surat berjanji. Peringatan gizi dan nutrisi di dalam tujuan upacara membesarkan anak ini juga menjadi peristiwa penting yang harus diperhatikan.

    TULANG GAJAH

Temuan tulang gajah yang sudah memfosil di kecamatan Tamban, kabupaten Barito Kuala menunjukkan bahwa zaman dahulu pernah hidup binatang gajah yang merupakan kekayaan fauna daerah Kalimantan selatan. Berdasarkan penelitian , keberadaan gajah ini dari masa 10.000 tahun.

    PENINGGALAN PRASEJARAH


Yang di temukan di kaki gunung, di tepi-tepi danau dan sungai. Yang meliputi kapak genggam, beliung persegi, kapak lonjong, kapak batu, pahat da kapak perunggu.